
6/7/2025
Abu Wadaha News: Dengan Judul: Bahaya Memandang Kekuasaan Sebagai Kue yang Dibagi, Hizbut Tahrir Menyelenggarakan Forum Bulanan
Forum Isu-isu Umat
Bahaya Memandang Kekuasaan Sebagai Kue yang Dibagi
Dengan judul ini, Hizbut Tahrir/Wilayah Sudan, mengadakan forum bulanannya (Forum Isu-isu Umat), di kantor partai di kota Port Sudan pada hari Sabtu, 10 Muharram 1447 H, bertepatan dengan 05/07/2025 M..
Dalam forum yang dihadiri oleh sekelompok jurnalis dan lainnya, berbicara Al-Ustadz Muhammad Jami' Abu Ayman, asisten juru bicara resmi Hizbut Tahrir di Wilayah Sudan, dan Al-Ustadz Al-Nadzir Mukhtar, anggota Hizbut Tahrir.
Setelah Al-Ustadz Ibrahim Masyraf, petugas panggung, anggota Kantor Media Hizbut Tahrir di Wilayah Sudan, menyambut para tamu, ia memberikan kesempatan kepada pembicara pertama, Abu Ayman, yang menyampaikan makalah, yang menjelaskan bahwa masalah pemerintahan di Sudan adalah didasarkan pada pemisahan agama dari politik, sehingga pandangan terhadap kekuasaan adalah sebagai rampasan dan kue, yang diperebutkan oleh para politisi sejak keluarnya penjajah hingga hari ini, menunjuk pada apa yang terjadi sekarang dari tarik-menarik tentang pembentukan pemerintahan di bawah kepemimpinan Kamel Idris, dan desakan gerakan bersenjata yang berpartisipasi dalam kekuasaan atas bagian mereka, meskipun ada pembicaraan tentang pemerintahan yang akan terdiri dari orang-orang yang kompeten, dan bukan pembagian kekuasaan. Namun masalah pembagian kekuasaan hadir seperti dalam pemerintahan Hamdok dan lainnya, mengutip pernyataan Minawi, dan juru bicara Gerakan Keadilan dan Kesetaraan, oleh karena itu semua pemerintah ini gagal dalam mengatasi masalah rakyat. Ia menyimpulkan bahwa pandangan ini harus diubah agar urusan menjadi lurus.
Kemudian Al-Ustadz Al-Nadzir Mukhtar berbicara tentang pandangan Islam terhadap kekuasaan sebagai amanah dan tanggung jawab, dan bahwa penguasa dibaiat oleh umat yang memiliki kekuasaan untuk memerintah mereka dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengurus urusan mereka dengan hukum-hukum Islam.
Kemudian kesempatan dibuka untuk intervensi, dan ada dua intervensi dari seorang jurnalis dari Kantor Berita Sudan, dan yang lainnya dari situs berita Al-Halb, yang mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan partisipasi dalam pemerintahan, visi Hizbut Tahrir untuk tahap selanjutnya, dan hubungan serta kontaknya dengan para politisi, dan kedua pembicara menjawabnya, serta ada pertanyaan yang diterima di panggung melalui media yang telah dijawab.
Kantor Media Hizbut Tahrir di Wilayah Sudan
Sumber: Abu Wadaha News
