Qadha dan Qadar dan Pembawa Dakwah
Pemahaman yang Kokoh dan Perjalanan yang Tidak Kenal Lelah
Di zaman yang penuh dengan frustrasi, dan ujian menumpuk di pundak umat, dan jalan menuju perubahan menjadi penuh dengan bahaya dan kesulitan, kebutuhan pembawa dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam muncul untuk pemahaman yang mendalam tentang qadha dan qadar, pemahaman yang memperkuat keyakinan, memberikan keteguhan, dan membentuk kepribadian yang tidak tergoyahkan oleh badai, dan tidak menyimpang dari tujuannya oleh kengerian.
Sesungguhnya, berbicara tentang qadha dan qadar bukanlah kemewahan intelektual, atau diskusi filosofis yang dilakukan demi perdebatan, tetapi merupakan salah satu prinsip dasar akidah Islam, yang memiliki dampak langsung pada perilaku seorang Muslim, terutama pembawa dakwah, yang mengabdikan dirinya kepada Allah SWT untuk menegakkan agama-Nya di bumi dan memulihkan kekuasaan Islam yang dirampas.
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik kehidupan dan kematian, kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, gempa bumi dan gunung berapi, adalah qadha dari Allah. Adapun apa yang dikhususkan bagi manusia berupa perbuatan yang mampu ia lakukan atau hindari, maka itu adalah dari perbuatan dan usahanya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.
Perbuatan manusia berada di antara dua lingkaran; lingkaran di luar kemampuan dan kehendaknya, yaitu ia tidak memiliki kemampuan atasnya, dan lingkaran di bawah kehendak dan kemampuannya, dan perbuatan manusia yang berada di bawah kemampuan dan kehendaknya, adalah dari usahanya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya... dan qadha adalah apa yang tidak mampu dilakukan manusia berupa urusan kehidupan, kematian, rezeki, dan yang serupa.
Ketika pembawa dakwah menyadari pemahaman yang mendalam tentang qadha dan qadar ini, maka ia akan terbebas dari perasaan tidak berdaya, dan mengetahui bahwa perubahan tidak harus terjadi hanya karena telah ditakdirkan dalam ilmu Allah, tetapi terkait dengan keinginan untuk berubah pada manusia dan perbuatan mereka dalam kehendak ilahi.
Oleh karena itu, pembawa dakwah tidak menyerah pada kesulitan dan tidak membenarkan kemalasannya dengan qadar, dan tidak mengatakan seperti yang dikatakan: "Ini adalah takdir kita", tetapi mengetahui bahwa Allah menciptakannya sebagai makhluk yang berkehendak bebas, dibebani dan diperintahkan, dan bahwa ia harus bekerja untuk menegakkan syariat-Nya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kelalaiannya jika ia lalai.
Tidak benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa manusia dipaksa atas perbuatannya, karena Allah telah memberinya kehendak, memberinya akal, menjelaskan jalannya, memerintahkan dan melarangnya, kemudian menghisabnya atas perbuatannya. Jika ia dipaksa, maka perhitungan tidak akan sah.
Sejarah umat Islam penuh dengan contoh orang-orang yang menghayati pemahaman ini, sehingga mereka mulai bekerja dengan penuh semangat untuk mengubah realitas, sehingga qadariah gaib tidak menguasai mereka dan qadha dan qadar bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Nabi ﷺ, dengan pengetahuannya bahwa beliau adalah utusan Allah yang terpilih, dan bahwa kemenangan dan peneguhan adalah janji yang pasti akan terwujud, tidak bermalas-malasan, tetapi menanggung derita, bersabar atas cobaan, mendidik para sahabatnya untuk berusaha dan bekerja, merencanakan, berhijrah, dan mendirikan negara di Madinah.
Ketika para sahabat menghadapi musibah besar seperti Uhud atau Hunain atau terbunuhnya para pemimpin, mereka tidak mengatakan: "Ini adalah takdir Allah, maka mari kita berhenti berusaha", tetapi mereka tahu bahwa hasil ada di tangan Allah, dan bahwa yang dituntut dari mereka adalah berusaha dan bekerja sesuai dengan perintah Allah dalam ketaatan mutlak.
Sesungguhnya, iman kepada qadar tidak boleh menyebabkan sikap pasrah, tetapi harus mendorong untuk bekerja, karena itu berarti bahwa Allah mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, tetapi Dia tidak memaksa manusia untuk melakukannya, tetapi menentukannya dengan ilmu dan pengetahuan-Nya, dan membiarkannya bebas memilih.
Salah satu hal paling berbahaya yang menimpa umat saat ini adalah penyimpangan dalam memahami qadar, hingga sebagian putra-putrinya menjadikannya alasan untuk lari dari tanggung jawab, dengan mengatakan: "Apa yang terjadi pada kita berupa kehinaan, pendudukan, dan ketergantungan adalah takdir Allah, dan tidak dapat diubah".
Pemahaman ini batil, dan bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Allah tidak memerintahkan kita untuk bersandar, tetapi berfirman: ﴿DAN SIAPKANLAH UNTUK MEREKA APA YANG KAMU SANGGUP DARI KEKUATAN﴾, dan berfirman: ﴿SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH KEADAAN SUATU KAUM SEHINGGA MEREKA MENGUBAH KEADAAN DIRI MEREKA SENDIRI﴾.
Barangsiapa menyangka bahwa kehinaan dan kerendahan yang kita alami saat ini adalah qadha yang tidak dapat ditolak, maka ia telah mendustakan nash-nash wahyu, menghilangkan tanggung jawab manusia, dan menjadikan syariat sia-sia, dan mustahil bagi Allah untuk memerintahkan kita mendirikan negara kemudian mencegahnya secara paksa, atau membebani kita dengan apa yang tidak mampu kita lakukan atau di luar kemampuan kita.
Sesungguhnya pembawa dakwah hidup dalam realitas yang penuh dengan cobaan; dikejar, dipenjara, dipecat dari pekerjaannya, dikhianati, dan idenya diperangi dari segala arah. Di sinilah muncul dampak nyata dari memahami qadha dan qadar.
Ia tahu bahwa gangguan adalah qadar, bahwa rezeki adalah qadar, dan bahwa kemenangan adalah qadar. Tetapi pada saat yang sama ia tahu bahwa tugasnya untuk berdakwah adalah wajib dan kelalaiannya untuk melakukannya adalah dosa, dan setiap musibah yang menimpanya di jalan ini akan menjadi ganjaran baginya di hadapan Allah, dan bahwa Allah tidak akan bertanya kepadanya mengapa kamu tidak menang? Tetapi Dia akan bertanya kepadanya apakah kamu telah membawa dakwah sebagaimana diperintahkan ataukah kamu lalai di dalamnya?
Ia berjalan di jalan yang panjang, tidak mengharapkan apa pun kecuali wajah Allah, dan tahu bahwa pembunuhan, penahanan, atau pengasingan hanyalah ajal yang telah dituliskan baginya yang tidak akan maju atau mundur, sehingga ia membawa dakwah dengan teguh, dan mengatakan sebagaimana yang dikatakan Nabi ﷺ: «DEMI ALLAH, JIKA MEREKA MELETAKKAN MATAHARI DI TANGAN KANANKU, DAN BULAN DI TANGAN KIRIKU AGAR AKU MENINGGALKAN URUSAN INI SAMPAI ALLAH MENAMPAKKANNYA, ATAU AKU BINASA DI DALAMNYA, MAKA AKU TIDAK AKAN MENINGGALKANNYA».
Sesungguhnya qadha dan qadar dalam Islam bukanlah penghalang di jalan perubahan, tetapi pendorong untuk bekerja dengan ikhlas dan tenang, karena itu menanamkan di dalam hati bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, dan bahwa jika kamu jujur kepada Allah, maka kamu dijanjikan kemenangan meskipun setelah beberapa waktu.
Sesungguhnya pembawa dakwah jika menggabungkan antara iman kepada qadar dan kerja keras, antara usaha yang gigih dan tawakal kepada Allah, maka ia berjalan di jalan Muhammad ﷺ, dan menjadi bagian dari generasi peneguhan, bukan generasi pembenaran.
Sebagai penutup, kami katakan kepada para pembawa dakwah:
Bekerjalah, bersungguh-sungguhlah, dan bersabarlah, karena kamu berada di atas kebenaran, dan Allah akan menolong agama-Nya denganmu atau dengan selainmu, maka jadikanlah dirimu termasuk tentara-Nya yang terpilih, yang memahami dengan baik, menguasai pekerjaan, dan tetap teguh betapapun dahsyatnya badai, dan demi Allah, umat ini akan menegakkan Khilafah Rasyidah sesuai dengan manhaj kenabian dalam waktu dekat, siapapun yang menginginkan dan siapapun yang menolak.
﴿HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, PENUHILAH PANGGILAN ALLAH DAN PANGGILAN RASUL APABILA RASUL MENYERU KAMU KEPADA SUATU YANG MEMBERI KEHIDUPAN KEPADAMU﴾
Ditulis untuk siaran Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Mahmoud Al-Laithi
Anggota Kantor Media Hizbut Tahrir di Wilayah Mesir