Bersama Hadis Nabi
Malu adalah Cabang dari Keimanan
Kami menyapa Anda semua, para kekasih, di mana pun Anda berada, dalam episode baru dari program Anda "Bersama Hadis Nabi" dan kami mulai dengan salam terbaik, yaitu Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dalam penjelasan Imam Nawawi "dengan perubahan" dalam "Bab Urusan Keimanan".
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Ju'fi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Amir Al-Aqdi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman."
Wahai para pendengar yang budiman:
Sesungguhnya iman itu memiliki tingkatan dan derajat, yang tidak diperhatikan oleh banyak orang. Jika salah seorang dari mereka shalat dan berpuasa, dia mengira bahwa dia telah menyempurnakan ikatan Islam, dan menjadi sangat dekat dengan iman dan pengetahuan tentang Allah. Ini adalah kebodohan yang telah menutupi hati umat ini selama beberapa dekade kelemahan intelektual dan fikih yang menimpanya. Barangkali hadis ini mengandung hal-hal yang harus disadari oleh setiap Muslim.
Wahai kaum Muslimin:
Sesungguhnya rasa malu yang disebutkan dalam hadis ini hanyalah contoh dari makna menjadi seorang mukmin, yaitu isyarat bahwa iman tidak hanya berhenti pada syahadat, shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga isyarat tentang hubungan seorang Muslim dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan orang lain. Seorang Muslim harus malu di hadapan Allah, malu di hadapan dirinya sendiri, dan di hadapan orang lain. Dalam hal ini, manifestasi moral menjadi tinggi dan luhur. Jika akhlak malu adalah sifat yang menyertai hubungan manusia satu sama lain, bagaimana dengan sifat-sifat lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat pada saat itu akan diwarnai oleh akhlak ini, dan akan menjadi masyarakat yang diliputi oleh keluhuran, kekuatan, dan iman. Tetapi kapan hal itu akan terwujud ketika orang yang menanamkan akhlak seperti itu pada umat telah hilang? Kapan hal itu akan terwujud ketika kepala umat ini telah rusak?!
Ya Allah, segerakanlah untuk kami kekhalifahan yang mengikuti jejak kenabian yang akan mengumpulkan kembali umat Islam, mengangkat dari mereka apa yang mereka alami dari cobaan. Ya Allah, terangilah bumi dengan cahaya wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, kabulkanlah, kabulkanlah.
Para kekasih, sampai jumpa lagi dengan hadis Nabi yang lain, kami meninggalkan Anda dalam lindungan Allah, dan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ditulis untuk radio oleh: Abu Maryam