Bersama Hadis
Andaikan Kalian Tetap Seperti Keadaan Kalian di Sisiku
2- Kami menyapa Anda semua, para pendengar yang budiman, di mana pun Anda berada, dalam episode baru dari program Anda bersama Hadis. Kami memulai dengan salam terbaik, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertai Anda.
Dari Hanzalah al-Katib at-Tamimi al-Usaidi, ia berkata:
Kami pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, lalu kami menyebutkan surga dan neraka hingga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian aku pergi ke keluargaku dan anak-anakku, lalu aku tertawa dan bermain. Dia berkata: Lalu aku teringat apa yang sedang kami bicarakan, lalu aku keluar dan bertemu Abu Bakar, lalu aku berkata: Aku telah munafik, aku telah munafik. Abu Bakar berkata: Kami juga melakukan hal itu. Lalu Hanzalah pergi dan menceritakan hal itu kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, lalu beliau bersabda: "Wahai Hanzalah, andaikan kalian tetap seperti keadaan kalian di sisiku, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di atas tempat tidur kalian atau di jalan-jalan kalian. Wahai Hanzalah, sesaat dan sesaat."
Telah disebutkan dalam penjelasan Sunan Ibnu Majah oleh As-Sindi
Perkataannya (aku telah munafik) yaitu keadaanku telah berubah sehingga tidak seharusnya lalai dari keduanya bagi orang yang beriman kepada keduanya, maka kelalaian dari keduanya menyerupai pengingkaran batin terhadap keberadaannya. Singkatnya, keberadaan iman kepada keduanya di dalam hatinya telah samar baginya tanpa keraguan, dan ia menganggapnya sebagai kemunafikan. Dengan ini, jelaslah bahwa keraguan dalam iman tidaklah menyebabkan kekafiran, tetapi keraguan terhadap orang yang diimani itulah yang menyebabkan kekafiran.
Perkataannya (andaikan kalian tetap seperti keadaan kalian)
Beliau mengingatkan mereka bahwa kehadiran tidak berlangsung terus-menerus secara adat, dan ketidakhadirannya tidak membahayakan keberadaan iman di dalam hati, dan kelalaian hanya menafikan kehadiran, maka tidak mengharuskan ketiadaan iman; Sesaat adalah kehadiran agar urusan agama teratur dengannya, dan sesaat adalah kelalaian agar urusan agama dan penghidupan teratur dengannya, dan di dalam masing-masingnya terdapat rahmat bagi hamba.
Para pendengar yang budiman:
Hadis yang mulia yang ada di hadapan kita ini menegaskan beberapa hal, di antaranya:
Pertama: Bahwa konsep (sesaat dan sesaat) tidak ada hubungannya, baik dari dekat maupun dari jauh, dengan apa yang dipahami oleh sebagian orang bahwa itu adalah sesaat untukmu dan sesaat untuk Tuhanmu. Sudah maklum bahwa seluruh kehidupan seorang Muslim adalah untuk Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah Ta'ala mengajarkan hamba-hamba-Nya untuk mengatakan (Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam)
Tidak ada sesuatu pun dalam kehidupan seorang Muslim yang bukan untuk Allah, karena Allah (telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka). Maka kaum Muslimin semuanya menjual apa yang mereka miliki sebagai harga untuk surga. Ya, mungkin dalam kehidupan seorang Muslim ada saat terjaga dan saat lalai, saat kuat dan saat lemah, saat dekat dan saat jauh, tetapi ia segera ingat dan melihat; maka ia menolak kelalaian dan menguatkan kelemahan, dan lari kepada Allah, Allah Ta'ala berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya).
Dan datang dalam hadis yang mulia: (Setiap anak Adam adalah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat)
Kedua: Bahwa nasihat dan bimbingan tidak cukup dengan sendirinya untuk menjadi jalan dalam membangun kepribadian dan mengubah perilaku. Surga dan neraka, ancaman dan harapan, semuanya adalah dari Islam. Tetapi para ulama kita dan para pembawa dakwah tidak boleh lalai bahwa juga tidak ada pengganti untuk ide dan konsep Islam yang dibutuhkan oleh setiap Muslim dalam kehidupan sehari-harinya yang memengaruhi perilakunya dengan pengaruh yang produktif dan terfokus. Maka seorang Muslim, selain kesadarannya akan nikmat surga dan azab akhirat, harus menyadari misalnya hakikat konflik antara Islam dan kekufuran, dan menyadari hakikat demokrasi, sekularisme, dan kapitalisme, dan menyadari hakikat akidah Islam sebagai akidah spiritual dan politik, dan menyadari bahwa Islam datang untuk diterapkan, dan menyadari bahwa tidak ada penerapan Islam kecuali dengan negara, dan menyadari sebab-sebab keterbelakangan kita dan jalan kebangkitan kita.
Allah Ta'ala berfirman:
(Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar)
Dan Allah Ta'ala berfirman: (Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya)
Para pendengar yang budiman, sampai jumpa lagi dengan hadis nabawi lainnya, kami tinggalkan Anda dalam lindungan Allah, dan semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertai Anda.