Bersama Hadis Nabi
Barangsiapa Mencari Dunia dengan Cara Halal
Kami menyapa Anda semua, para pendengar yang terkasih di mana pun Anda berada, dalam episode baru program Anda "Bersama Hadis Nabi" dan kami mulai dengan salam terbaik, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertai Anda.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Musannaf-nya, dia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki', dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Hajjaj bin Farafisah, dari seorang pria, dari Mak-hul, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mencari dunia dengan cara halal untuk menjaga diri dari meminta-minta, dan berusaha untuk keluarganya, dan menyayangi tetangganya, dia akan bertemu Allah dengan wajahnya seperti bulan di malam purnama, dan barangsiapa mencari dunia dengan cara halal untuk memperbanyak harta, bermegah-megahan, dia akan bertemu Allah dalam keadaan murka kepadanya."
Disebutkan dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih dalam penjelasan hadis ini:
Ucapan beliau: (Barangsiapa mencari dunia dengan cara halal): yaitu dari jalan yang halal.
(Istiafa): yaitu untuk mencari kesucian dari meminta-minta: dalam an-Nihayah, istiafa adalah mencari kesucian dan iffah, yaitu menahan diri dari yang haram dan meminta-minta kepada manusia.
(Dan berusaha untuk keluarganya) yaitu: untuk keluarganya yang wajib dia nafkahi.
(Dan menyayangi tetangganya): dengan berbuat baik kepadanya dengan apa yang lebih dari yang dia miliki.
(Dia akan bertemu Allah Ta'ala pada hari kiamat dan wajahnya) yaitu: keadaannya adalah wajahnya dari sisi kesempurnaan cahaya dan puncak kebahagiaan (seperti bulan di malam purnama): dibatasi dengannya karena itu adalah waktu kesempurnaannya.
(Dan barangsiapa mencari dunia dengan cara halal): apalagi mencarinya dengan cara haram.
(Untuk memperbanyak harta): yaitu dalam keadaan dia mencari banyaknya harta untuk keadaan yang lebih baik dan tidak membelanjakannya untuk memperbaiki tempat kembali.
(Bermegah-megahan): yaitu kepada orang-orang fakir sebagaimana kebiasaan orang-orang bodoh dari orang-orang kaya.
(Riya): yaitu jika ada kebaikan atau pemberian yang keluar darinya.
(Dia akan bertemu Allah Ta'ala dalam keadaan Dia murka kepadanya):
Dan mungkin saja shallallahu alaihi wasallam tidak menyebutkan orang yang mencari yang haram, baik karena mencukupkan dengan apa yang dipahami dari kandungan perkataan, atau sebagai isyarat bahwa itu bukan perbuatan ahli Islam, atau sebagai pemberitahuan bahwa memakan yang haram dan mendekatinya adalah haram, meskipun tidak ada pencarian dan tujuan.
At-Tibi rahimahullah berkata: Dalam hadis ini terdapat makna firman Allah Ta'ala: (Pada hari ketika ada wajah yang putih berseri dan ada wajah yang hitam muram) dan keduanya adalah ungkapan tentang ridha Allah Ta'ala dan murka-Nya, maka ucapan beliau: dan wajahnya seperti bulan adalah berlebihan dalam mendapatkan ridha dengan dalil perkataan beliau sebagai lawannya: dan Dia murka kepadanya (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah) selesai.
Para pendengar yang kami hormati
Dalam hadis yang mulia ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa Islam, sebagaimana menganjurkan untuk bekerja dengan cara yang halal, juga menganjurkan untuk berinfak dengan cara yang halal, dan mengharamkan menimbun harta atau menginfakkannya dengan riya, kebanggaan, dan kesombongan.
Maka motivasi untuk bekerja, yaitu berusaha untuk mendapatkan (mencari dunia) di sisi manusia, sebagaimana dijelaskan oleh hadis yang mulia, berkisar antara dua hal:
Berusaha dalam ketaatan
Dan berusaha dalam kemaksiatan
Adapun mencari dalam ketaatan, maka seseorang bekerja untuk mendapatkan makanannya agar tidak terpaksa meminta-minta kepada manusia, maka dia ingin menjaga harga dirinya dan melindungi dirinya dari kehinaan meminta-minta.
Atau untuk mendapatkan nafkah keluarganya dan itu adalah di antara kewajiban yang diperintahkan oleh syariat yang lurus kepadanya dan apa yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya maka itu adalah wajib, maka pekerjaannya ini adalah wajib.
Atau untuk memperbanyak hartanya untuk membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang tertimpa musibah, maka itu adalah pekerjaan yang memanifestasikan rasa tanggung jawab. Dan semangat untuk menunaikan hak persaudaraan dalam Islam.
Dan itu adalah motivasi yang diinginkan oleh Islam dan diridhai oleh Ar-Rahman, maka pahalanya istimewa, dan agung .......maka bulan di malam purnama berada dalam cahaya dan keindahannya yang sempurna. Dan inilah keadaan orang yang mendapatkan ridha Allah dan cinta-Nya.
Adapun mencari dunia dalam kemaksiatan sebagaimana disebutkan dalam hadis, maka itu adalah mencarinya dengan cara yang halal tetapi untuk tujuan yang haram
Maka mengumpulkan harta dan memperbanyaknya tanpa menginfakkannya dianggap sebagai menimbun harta dan Allah telah mengharamkan menimbun harta, Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih"
Demikian juga mengumpulkan harta untuk diinfakkan dengan riya kepada manusia dan dengan kebanggaan dan kesombongan kepada mereka, maka itu juga haram, dan pelakunya akan kembali dengan murka Allah dan seburuk-buruk tempat kembali.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berinfak dengan cara yang baik dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang bakhil atau riya
Amin
Para pendengar yang kami hormati, dan sampai kita bertemu dengan hadis nabawi lainnya, kami tinggalkan Anda dalam lindungan Allah, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertai Anda.