Partai Islah, Seperti Partai-Partai Lain di Yaman, Masih Tersesat di Lorong-Lorong Sekularisme
Berita:
Ketua Badan Tertinggi Partai Islah, Muhammad al-Yadoumi, mengumumkan inisiatif politik baru yang menyerukan kekuatan politik Yaman untuk menandatangani "piagam kehormatan nasional" yang bertujuan untuk mengelola negara dalam kemitraan dan kesepakatan setelah mengakhiri kudeta Houthi. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada kesempatan peringatan 35 tahun berdirinya partai, al-Yadoumi menjelaskan bahwa inisiatif tersebut mengharuskan Yaman dikelola selama beberapa tahun tertentu hingga negara pulih, dan negara dipersiapkan untuk mengadakan pemilihan umum.
Komentar:
Hal yang paling dibangga-banggakan oleh partai-partai - akibat dangkalnya pemikiran mereka - adalah seberapa banyak darah yang telah mereka korbankan sebagai akibat dari konflik internasional di Yaman karena mereka adalah alat untuk konflik tersebut, serta seberapa besar mereka berpegang pada nilai-nilai nasional mereka sebagai ikatan yang rendah dan tidak benar yang tidak mengenyangkan dan tidak menghilangkan rasa lapar. Di sini perlu untuk mencoba menjawab pertanyaan yang terlintas di benak banyak orang; pertanyaan itu adalah: Demi apa partai-partai itu, termasuk Partai Islah, mengorbankan pengorbanan mereka?!
Bukankah Islah seperti partai-partai sekuler lainnya, termasuk gerakan Houthi, yang semuanya percaya, mengakui, dan berjuang demi sistem republik demokratis Barat, dan demi negara sipil yang memisahkan agama dari kehidupan, dari negara, dan dari kebebasan yang membebaskan manusia dari perhambaannya kepada Allah dan menjadikannya pembuat undang-undang untuk konstitusi dan undang-undang positifnya melalui Dewan Perwakilan Rakyat, serta mengakui nasionalisme yang ditentukan oleh perjanjian Sykes-Picot yang terkutuk, yang memecah belah negara-negara Muslim menjadi lebih dari lima puluh bagian, dan menjadikannya penjara-penjara besar untuk setiap bangsa secara terpisah? Kemudian pemimpin mereka datang dan mengajukan inisiatif politiknya dengan nama piagam kehormatan nasional untuk memecahkan masalah Yaman, mengabaikan akidah Islam dan hukum-hukum syar'i, selain dari pengakuan dan penghormatan partai-partai tersebut terhadap piagam dan perjanjian internasional, hukum internasional, dan resolusi PBB dan Dewan Keamanannya yang dipaksakan kepada kita oleh orang kafir penjajah, dan dilanggarnya kapan pun itu menjadi kepentingannya!
Tidak ada kemuliaan, tidak ada kehormatan, tidak ada kemenangan, tidak ada pemberdayaan, dan tidak ada keridhaan dari Allah di dunia dan akhirat kecuali dengan mendirikan negara Khilafah Rasyidah kedua di atas manhaj kenabian, yang menerapkan hukum-hukum Islam, pada penguasa sebelum yang diperintah di negara-negara Muslim, sebagai solusi efektif untuk masalah-masalah Muslim, bahkan untuk masalah-masalah seluruh dunia, dengan membawanya ke dalam Islam sebagai rahmat dan hidayah melalui dakwah dan jihad secara global sebagai tanggapan terhadap perintah Allah. Tidakkah kamu berpikir?!
Ditulis untuk radio Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Abdullah al-Qadhi – Wilayah Yaman