Siaran Pers
Belasungkawa untuk Anas Al-Sharif dan Rekan-rekannya
(Diterjemahkan)
Pada malam hari Minggu, 10 Agustus 2025, sebuah tenda media kecil di depan kompleks medis Al-Shifa di Kota Gaza hancur total akibat pemboman langsung dari entitas Yahudi, yang menyebabkan gugurnya lima jurnalis yang mendokumentasikan genosida yang sedang berlangsung di Gaza. Di antara para syuhada adalah koresponden Anas Al-Sharif, dan Muhammad Quraiqa, dan juru kamera Ibrahim Zaher, dan Moamen Aliwa, dan Muhammad Nofal, semoga Allah Ta'ala merahmati mereka dan menerima mereka di antara para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh, dan betapa baiknya mereka sebagai teman.
Rakyat Palestina, dan khususnya penduduk Gaza, masih menghadapi agresi tanpa henti dari entitas Yahudi dan kekuatan internasional yang melindunginya, terutama Amerika. Kehidupan, rumah, martabat, dan tempat suci mereka telah dilanggar tanpa hambatan. Jurnalis, yang misinya adalah untuk menyaksikan dan menyampaikan kekejaman ini kepada dunia, juga menjadi sasaran secara sistematis. Menurut Al Jazeera, entitas Yahudi telah membunuh sekitar 270 jurnalis dan pekerja media, dalam tantangan terang-terangan terhadap hukum internasional, etika dasar, dan bahkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang paling sederhana.
Sistem internasional memikul tanggung jawab langsung atas kejahatan ini. Pernyataan kecaman kosong dan ekspresi kesedihan simbolis tidak membebaskan pemerintah dari kekuasaan untuk bertindak. Sementara ratusan ribu orang berdemonstrasi di kota-kota dari Sydney hingga Tokyo hingga London, pemerintah mereka menolak untuk mengambil tindakan serius terhadap entitas Yahudi. Sementara itu, negara-negara tetangga yang memiliki tentara yang mampu mengakhiri pembantaian ini tetap diam.
Pembantaian di Gaza merupakan simbol pengabaian, yang merupakan istilah yang tidak cukup untuk menggambarkan besarnya pengkhianatan. Kecaman berulang yang dikeluarkan oleh PBB dan ibu kota dunia sebenarnya adalah tindakan kolusi. Negara-negara ini terus memberikan dukungan militer, politik, dan ekonomi langsung kepada entitas Yahudi. Tidak ada yang akan menghentikan atau meminta pertanggungjawaban kejahatan entitas ini kecuali Khilafah Rasyidah sesuai manhaj kenabian, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ: «Kemudian akan ada kerajaan yang menindas, dan itu akan terjadi selama Allah menghendaki, kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya, kemudian akan ada Khilafah sesuai manhaj kenabian» (HR. Ahmad).
Khilafah Rasyidah adalah kerangka politik dan militer satu-satunya yang mampu melindungi Gaza dan seluruh negeri Muslim yang tertindas. Umat harus menuntut pemecatan para penguasa mereka yang mencegah tentara mereka untuk melakukan tugas mereka. Tentara-tentara ini harus memisahkan diri dari mereka, dan mengerahkan diri untuk membela Gaza, dan memberikan pertolongan kepada mereka yang bekerja dengan tulus untuk menegakkan Khilafah, yaitu Hizbut Tahrir.
Kewajiban ini menghilangkan kekhawatiran dari hati setiap Muslim yang ingin membela umat Islam dan membela tempat-tempat suci mereka. Inilah jalan yang menentukan.
﴿Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.﴾
Haitham bin Thabit
Perwakilan Media Hizbut Tahrir
di Amerika