Sekilas Berita 26-10-2025
Laporan (Israel): Rencana Amerika untuk Membagi Jalur Gaza menjadi Dua Wilayah sebagai Persiapan untuk Rekonstruksi
RT, 2025/10/25 - Media di entitas Yahudi melaporkan bahwa tahap kedua dari rencana pengelolaan Jalur Gaza mencakup pembagiannya menjadi dua wilayah sebagai persiapan untuk rekonstruksi. Menurut laporan, Amerika sedang membuka jalan untuk membagi Jalur Gaza menjadi dua bagian:
Wilayah barat, yang terletak di belakang apa yang dikenal sebagai "Garis Kuning", akan tetap berada di bawah kekuasaan gerakan Hamas, tanpa rekonstruksi, dengan tetap mempertahankan bantuan kemanusiaan yang terbatas saja.
Wilayah timur, yang membentang di belakang garis yang sama, akan berada di bawah kendali keamanan entitas Yahudi dengan partisipasi pasukan dari negara-negara asing termasuk Indonesia dan akan menyaksikan operasi rekonstruksi yang luas, dengan mengizinkan penduduk Gaza untuk pindah ke sana dari daerah-daerah yang dikendalikan oleh Hamas.
Menurut sumber yang sama, apa yang disebut "Negara Gaza Timur" akan dibagi menjadi lima wilayah yang berbeda, dengan proyek-proyek rekonstruksi dimulai dengan inisiatif percobaan di kota Rafah di selatan Jalur Gaza.
Amerika berpikir sesuka mereka dan mengoordinasikan urusan rencana mereka dengan entitas Yahudi dan beberapa negara bawahan dan tidak memperhitungkan kekuatan apa pun di negara-negara Muslim, karena belum ada kekuatan yang menghalangi mereka, merekalah yang memutuskan urusan Muslim dan bagaimana seharusnya keadaan mereka!
------------
Tentara Sudan Mengumumkan Menghalau Serangan Luas Pasukan Dukungan Cepat di Al-Fashir
Kantor Berita Anadolu, 2025/10/25 - Tentara Sudan, pada hari Sabtu, mengumumkan penghalauan serangan luas yang dilancarkan oleh Pasukan Dukungan Cepat di kota Al-Fashir, pusat negara bagian Darfur Utara (barat), melalui lima poros, dalam salah satu pertempuran terberat yang disaksikan kota itu dalam beberapa bulan terakhir.
Tentara, dalam sebuah pernyataan, mengatakan bahwa "Pasukan Tentara dan Pasukan Gabungan dari gerakan bersenjata dan pasukan pendukung berhasil menggagalkan serangan besar yang dilancarkan oleh milisi Dukungan Cepat, sejak fajar hari ini (Sabtu) di kota Al-Fashir dari lima poros". Pernyataan itu menjelaskan, bahwa "milisi menggunakan pasukan infanteri, kendaraan tempur, pengangkut personel lapis baja, dan kendaraan lapis baja dalam serangan itu, setelah mengerahkan tentara bayaran, dan didahului dengan operasi penembakan intensif dengan artileri berat dan senjata ringan".
Pasukan Dukungan Cepat tidak segera mengeluarkan komentar apa pun mengenai pernyataan tentara.
Sementara Menteri Luar Negeri Sudan mengunjungi Washington untuk menyetujui gencatan senjata di Sudan, Pasukan Dukungan Cepat ingin mempercepat penerapan kendali mereka atas kota Al-Fashir, kota terpenting di wilayah Darfur, dan dengan demikian ingin melembagakan perpecahan sesuai dengan rencana Amerika yang dijalankan oleh kedua pihak yang bertikai di balik layar.
-----------
Trump Menjatuhkan Sanksi kepada Presiden Kolombia dan Orang-orang Dekatnya dan Petro Menanggapi: "Dia Menginginkan Minyak Venezuela dan Guyana"
Euronews, 2025/10/25 - Petro menegaskan bahwa perdagangan fentanil "tidak ada hubungannya dengan Laut Karibia", menuduh Trump bahwa "dia menginginkan minyak Venezuela dan Guyana", dan mengundangnya untuk mengunjungi Kolombia untuk "melihat penyitaan kokain tanpa membunuh orang".
Gedung Putih, di bawah kepemimpinan Donald Trump, menjatuhkan sanksi yang tidak ditentukan terhadap Presiden Kolombia Gustavo Adolfo Petro. Sanksi tersebut juga mencakup Menteri Dalam Negeri Kolombia, Armando Alberto Benedetti, serta istri dan putra presiden.
Keputusan ini muncul setelah Angkatan Laut AS melakukan dua serangan terhadap kapal di lepas pantai Samudra Pasifik di Amerika Selatan minggu ini. Ini disertai dengan operasi serupa di Laut Karibia, sehingga total serangan menjadi sepuluh, yang mengakibatkan 43 orang tewas.
Menteri Keuangan AS Scott Bisent mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Petro telah mengizinkan geng narkoba untuk berkembang dan menolak untuk menghentikan aktivitas ini". Amerika menuduh presiden Kolombia sebagai gembong narkoba, karena dia menentang kebijakan Amerika, dan dia menyerukan dari New York untuk membentuk pasukan global untuk menghentikan perang di Gaza. Amerika mendukung Kolombia dengan ratusan juta dolar, tetapi menghentikan bantuan ini setelah kemenangan presiden sayap kiri pada tahun 2022, dan mulai memusuhi Venezuela dan menuduhnya melakukan narkoba.

