Pertentangan Antar Manusia: Sebab dan Solusinya
Pertama: Definisi Pertentangan:
A- Pertentangan dalam Makna Bahasa
Asal Bahasa: Dari kata kerja "نَزَعَ", yang berarti menarik, menyeret, dan menghilangkan.
Pertentangan: adalah saling tarik dan dorong antara dua pihak atau lebih, di mana setiap pihak mencoba menarik urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh: Dikatakan: "Dua orang bertengkar atas sesuatu" yaitu saling tarik dan berbeda pendapat tentangnya.
B- Pertentangan dalam Makna Syar'i (dalam Al-Qur'an dan Sunnah)
Dalam Al-Qur'an Al-Karim, kata (نزع) disebutkan di beberapa tempat, dan penggunaan kata "تنازع" yang paling terkenal adalah dalam konteks larangan perselisihan dan pertentangan: Larangan bertentangan (berselisih) karena menyebabkan kelemahan:
Ayat: ﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ﴾ [Surah Al-Anfal: 46].
Makna syar'i di sini: Larangan perselisihan dan pertikaian antara Muslim, karena hal itu menyebabkan: Kegagalan, dan hilangnya kekuatan dan keberanian (ريحكم). Dan ini adalah peringatan dari perpecahan yang melemahkan umat.
Makna lain dari kata (نزع) dalam Al-Qur'an: Menarik dan menghilangkan: ﴿وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ﴾ [Al-A'raf: 43], yaitu kami hilangkan dan keluarkan.
Merampas dengan paksa: ﴿فَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ﴾ [Al-A'raf: 108].
C- Pertentangan dalam Makna Istilah (dalam Ilmu-Ilmu Keislaman)
Makna istilahnya berbeda-beda tergantung ilmunya:
Dalam Ilmu Ushul Fiqh:
"Pertentangan Dalil" berarti pertentangan dua dalil syar'i secara lahiriah, maka seorang mujtahid perlu menggabungkan keduanya atau mentarjihkannya.
Dalam Politik Syar'i:
"Pertentangan atas Kekuasaan" berarti perselisihan dan perbedaan pendapat atas pemerintahan, dan ini haram karena menyebabkan fitnah.
Kedua: Sebab-Sebab Pertentangan Antar Manusia
* Asal Masalah (Pertentangan): Naluri dan Kebutuhan akan Kepuasan
Allah menciptakan manusia dan menanamkan di dalamnya naluri dan kebutuhan organik (seperti lapar, haus, seks) yang perlu dipenuhi. Masalahnya bukan pada keberadaan naluri ini, tetapi pada cara memenuhinya, dan ketika manusia dibiarkan tanpa bimbingan rabbani, mereka berusaha memenuhi naluri mereka dengan cara yang salah yang menyebabkan pertentangan dan perselisihan, dan alasan utamanya adalah: Tidak memahami bahwa Islam tidak mengharamkan pemenuhan naluri, tetapi mengaturnya dengan aturan yang mewujudkan keseimbangan.
Contoh Pemenuhan Naluri dengan Cara yang Salah yang Menyebabkan Pertentangan:
1- Naluri Bertahan Hidup (Bertahan Hidup/Kepemilikan)
* Di antara Manifestasinya: Cinta Kepemilikan dan Keinginan untuk Bertahan Hidup dan Menguasai Sumber Daya.
* Sebab Pertentangan: Ketika Dipenuhi secara Individual dan Egois Tanpa Aturan dan Sistem Seperti Kapitalisme yang Menjadikan Persaingan yang Tidak Terkendali sebagai Dasar Ekonomi dan di Antaranya Seperti Sebab Berikut:
A- Sebab-Sebab Psikologis dan Individual:
Seperti Egoisme dan Cinta Diri: Mengutamakan Kepentingan Pribadi di Atas Kepentingan Umum
Dan Kesombongan dan Keangkuhan: Keyakinan akan Keunggulan dan Penolakan Pendapat Orang Lain.
Dengki dan Dendam: Tidak Menerima Kesuksesan Orang Lain atau Kepemilikan Mereka atas Kebaikan.
B- Sebab-Sebab Kemasyarakatan dan Ekonomi:
Seperti Persaingan atas Sumber Daya: Perselisihan atas Kekayaan, Air, Tanah, atau Pekerjaan.
Dan Perbedaan Kelas: Melebarnya Jurang antara Orang Kaya dan Orang Miskin.
Dan Pengangguran dan Kemiskinan: Menciptakan Lingkungan yang Subur untuk Ketegangan dan Kejahatan.
C- Sebab-Sebab Politik:
Seperti Perselisihan atas Kekuasaan: Antara Partai, Kelompok, atau Negara.
Dan Kezaliman dan Korupsi: Menyebabkan Kemarahan dan Revolusi.
Dan Intervensi Asing: Dapat Menciptakan Konflik untuk Melayani Kepentingannya.
** Akibat Pemenuhan yang Salah:
- Perselisihan atas Kekayaan (Minyak, Air, Tanah).
- Perang Ekonomi dan Penjajahan.
- Ketidakadilan Sosial dan Kelas.
2- Naluri Jenis (Seks/Reproduksi)
* Di antara Manifestasinya: Keinginan untuk Berkembang Biak dan Memenuhi Dorongan Seksual.
* Sebab Pertentangan: Ketika Dipenuhi dengan Zina dan Pornografi
** Akibat Pemenuhan yang Salah:
- Perselisihan atas Wanita (Penculikan, Pemerkosaan).
- Runtuhnya Keluarga dan Penyebaran Penyakit.
- Konflik Keluarga atas Keturunan dan Warisan.
3- Naluri Beragama (Beribadah/Akidah)
* Di antara Manifestasinya: Kebutuhan Fitrah untuk Beribadah dan Tunduk kepada Kekuatan yang Lebih Tinggi.
* Sebab Pertentangan: Ketika Diarahkan dalam Beribadah kepada Selain Allah seperti Menyembah Thaghut dan Gagasan Menyimpang dan Contohnya Sebagai Berikut:
A- Sebab-Sebab Kultural dan Pemikiran:
Seperti Perbedaan dalam Keyakinan: Agama, Akidah, atau Nilai-nilai.
Dan Fanatisme: Fanatisme terhadap Ras, Suku, atau Mazhab.
Dan Kesalahpahaman: Akibat Perbedaan Bahasa atau Adat atau Tradisi.
** Akibat Pemenuhan yang Salah:
- Perang Akidah (Sektarian, Pengkafiran).
- Perselisihan Antar Agama dan Mazhab.
- Tirani Pemikiran dan Agama.
Ketiga: Prinsip Dasar Pengobatan:
Pengobatan tidak dengan menekan naluri tetapi dengan mengatur pemenuhannya sesuai dengan manhaj Allah Ta'ala, yang menciptakan naluri ini dan Dia lebih tahu bagaimana memanfaatkannya untuk mewujudkan kekhalifahan dan pembangunan, serta mengarahkannya dengan cara yang benar dalam kerangka syar'i yang mewujudkan keseimbangan individu dan masyarakat.
1- Mengobati Pertentangan yang Disebabkan oleh Naluri Bertahan Hidup (Kepemilikan dan Kontrol dan Kekuasaan)
Di antara Manifestasi Pertentangan adalah Sebagai Berikut:
A- Perselisihan atas Kekayaan dan Sumber Daya.
* Pengobatan Islami:
• Mengharamkan Penimbunan
Dari Ma'mar bin Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: «لَا يَحْتَكِرُ إِلَّا خَاطِئٌ» (HR. Muslim)
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Allah ﷺ bersabda: «الجَالِبُ مَرْزُوقٌ، وَالْمُحْتَكِرُ مَلْعُونٌ» (HR. Ibnu Majah)
• Menetapkan Prinsip Saling Membantu
Allah Ta'ala berfirman: ﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى﴾ (Surah Al-Ma'idah: 2)
Dari Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى» (Muttafaq 'Alaih)
* Mekanisme Penerapan:
• Mewajibkan Orang Kaya Membayar Zakat
Allah Ta'ala berfirman: ﴿خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا﴾ (Surah At-Taubah: 103).
Allah Ta'ala berfirman: ﴿وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ﴾ (Surah Al-An'am: 141).
Allah Ta'ala berfirman: ﴿وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ﴾ (Surah Al-Ma'arij: 24-25).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: «مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يُؤَدِّي زَكَاتَهُ إِلَّا أُحْمِيَ عَلَيْهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُجْعَلُ صَفَائِحَ فَيُكْوَى بِهَا جَبِينُهُ وَجَنْبُهُ وَظَهْرُهُ» (Muttafaq 'Alaih).
• Mendorong Sedekah
Allah Ta'ala berfirman: ﴿مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ﴾ (Surah Al-Baqarah: 261).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ» (HR. Muslim).
• Mengharamkan Menyimpan Harta
Allah Ta'ala berfirman: ﴿وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ﴾ (At-Taubah: 34).
B - Pertentangan atas Jabatan dan Kekuasaan
* Pengobatan Islami:
* Menerapkan Sistem Syura dan Bai'at
Mekanisme Penerapan:
1- Syarat Khalifah: Islam, Laki-laki, Adil, Kompeten, Berilmu tentang Syariat.
2- Langkah-Langkah Penerapan
• Dewan Syura Mencalonkan Sejumlah Kandidat.
• Menawarkan Kandidat kepada Umat untuk Dipilih.
• Bai'at Umum dari Perwakilan Umat.
• Bai'at Khusus (Ahlul Halli wal 'Aqdi).
3- Jaminan Integritas
• Transparansi Penuh dalam Proses Pemilihan.
• Hak Umat untuk Mempertanggungjawabkan Khalifah dan Mencopotnya Jika Menyimpang
* Menjadikan Kekuasaan sebagai Amanah dan Tanggung Jawab, Bukan Rampasan
Mekanisme Penerapan:
1- Tanggung Jawab di Hadapan Allah Kemudian Umat
• Sumpah: Khalifah dan Para Pemimpin Mengucapkan Sumpah untuk Menerapkan Syariat.
• Akuntabilitas Harian: Harus Menyajikan Laporan Berkala tentang Kinerjanya.
2- Mencegah Monopoli Harta
• G
More from null
Kehormatan Persahabatan dengan Abu Usamah, Ahmad Bakr (Hazim) -rahimahullah-
Kehormatan Persahabatan dengan Abu Usamah, Ahmad Bakr (Hazim) -rahimahullah-
Pada pagi hari kedua puluh dua Rabi'ul Awal 1447 Hijriah, bertepatan dengan tanggal empat belas September 2025 M, dan pada usia hampir delapan puluh tujuh tahun, Ahmad Bakr (Hazim), dari generasi pertama Hizbut Tahrir, telah berpulang ke sisi Tuhannya. Beliau mengemban dakwah selama bertahun-tahun dan menanggung penjara yang panjang dan siksaan yang berat di jalannya, namun beliau tidak menjadi lemah, tidak menyerah, tidak mengubah, dan tidak mengganti, berkat karunia dan pertolongan Allah.
Beliau menghabiskan waktu di Suriah pada tahun delapan puluhan, pada masa pemerintahan almarhum Hafez, selama bertahun-tahun dalam persembunyian hingga beliau ditangkap bersama sekelompok pemuda Hizbut Tahrir oleh Intelijen Udara pada tahun 1991, untuk menghadapi siksaan terberat di bawah pengawasan para penjahat Ali Mamlouk dan Jamil Hassan, di mana seseorang yang memasuki ruang interogasi setelah putaran interogasi dengan Abu Usamah dan beberapa rekannya memberi tahu saya bahwa dia melihat beberapa potongan daging beterbangan dan darah di dinding ruang interogasi.
Setelah lebih dari satu tahun di sel-sel cabang Intelijen Udara di Mezzeh, beliau dipindahkan bersama sisa rekannya ke Penjara Sednaya untuk kemudian dihukum sepuluh tahun, tujuh tahun di antaranya beliau habiskan dengan sabar dan mengharap pahala, kemudian Allah mengaruniakannya dengan jalan keluar.
Setelah keluar dari penjara, beliau langsung melanjutkan mengemban dakwah dan berlanjut hingga dimulainya penangkapan para pemuda partai yang mencakup ratusan orang di Suriah pada pertengahan bulan 12 tahun 1999, di mana rumahnya di Beirut digerebek dan diculik untuk dipindahkan ke cabang Intelijen Udara di Bandara Mezzeh, untuk memulai tahap baru siksaan yang mengerikan. Dan meskipun usianya sudah lanjut, dengan pertolongan Allah, beliau tetap sabar, teguh, dan mengharap pahala.
Setelah hampir setahun, beliau dipindahkan ke Penjara Sednaya lagi, untuk diadili di Pengadilan Keamanan Negara, dan kemudian dihukum sepuluh tahun, yang Allah takdirkan untuk beliau habiskan hampir delapan tahun di antaranya, kemudian Allah mengaruniakannya dengan jalan keluar.
Saya menghabiskan bersamanya tahun 2001 selama setahun penuh di Penjara Sednaya, bahkan saya berada tepat di sampingnya di Barak ke-5 (A) kiri lantai tiga, saya memanggilnya paman tersayang.
Kami makan bersama, tidur berdampingan, dan mempelajari budaya dan ide-ide. Dari beliaulah kami mendapatkan budaya, dan dari beliaulah kami belajar kesabaran dan keteguhan.
Beliau murah hati, mencintai orang-orang, bersemangat terhadap para pemuda, menanamkan kepada mereka kepercayaan pada kemenangan dan dekatnya terwujudnya janji Allah.
Beliau hafal Kitab Allah dan membacanya setiap hari dan malam, dan beliau bangun di sebagian besar malam, dan ketika fajar mendekat, beliau mengguncang saya untuk membangunkan saya untuk shalat malam, kemudian untuk shalat subuh.
Saya keluar dari penjara kemudian kembali lagi pada tahun 2004, dan kami dipindahkan ke Penjara Sednaya lagi pada awal tahun 2005, untuk bertemu kembali dengan mereka yang tersisa di penjara ketika kami keluar untuk pertama kalinya pada akhir tahun 2001, dan di antara mereka adalah paman tersayang Abu Usamah Ahmad Bakr (Hazim) -rahimahullah-.
Kami berjalan-jalan untuk waktu yang lama di depan barak-barak untuk melupakan bersamanya dinding-dinding penjara, jeruji besi, dan perpisahan dengan keluarga dan orang-orang tercinta, bagaimana tidak, sementara beliau telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara dan mengalami apa yang telah beliau alami!
Meskipun dekat dengannya dan bersahabat dengannya untuk waktu yang lama, saya tidak pernah melihatnya mengeluh atau mengadu sama sekali, seolah-olah beliau tidak berada di penjara, tetapi terbang di luar tembok penjara; terbang dengan Al-Quran yang beliau baca di sebagian besar waktunya, terbang dengan kedua sayap kepercayaan pada janji Allah dan kabar gembira Rasul-Nya ﷺ tentang kemenangan dan kekuasaan.
Kami dalam kondisi yang paling sulit dan paling keras menantikan hari kemenangan besar, hari di mana kabar gembira Rasul kita ﷺ terwujud «KEMUDIAN AKAN ADA KHILAFAH DI ATAS MANHAJ NABI». Kami rindu untuk berkumpul di bawah naungan Khilafah dan panji Al-Uqab berkibar. Tetapi Allah telah menakdirkan bahwa Anda akan pergi dari negeri kesengsaraan menuju negeri keabadian dan kekekalan.
Kami memohon kepada Allah agar Anda berada di Firdaus yang tertinggi dan kami tidak mensucikan seorang pun di hadapan Allah.
Paman tersayang kami, Abu Usamah:
Kami memohon kepada Allah untuk melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepadamu, menempatkanmu di surga-Nya yang luas, menjadikanmu bersama orang-orang yang jujur dan para syuhada, dan membalasmu atas segala penderitaan dan siksaan yang telah kamu alami dengan derajat yang tinggi di surga, dan kami memohon kepada-Nya Yang Maha Agung untuk mengumpulkan kami bersamamu di telaga bersama Rasul kita ﷺ dan di tempat yang penuh rahmat-Nya.
Hiburan kami adalah bahwa Anda menghadap Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang membuat Allah ridha, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Ditulis untuk radio Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Abu Sutayf Jiju
Sudan: Contoh Lain dari Kegagalan Nasionalisme
Sudan: Contoh Lain dari Kegagalan Nasionalisme
(Diterjemahkan)
Menurut hukum yang mengatur sistem saat ini, setiap bangsa memiliki hak untuk memilih hukum yang mengatur mereka, dan oleh karena itu, setiap bangsa memiliki hak atas sebuah negara. Konsep ini menyebabkan gelombang negara baru setelah Perang Dunia II, di mana negara-negara yang ada terpecah, dan akibatnya, terjadilah kekacauan yang kita saksikan hari ini.
Sejak tahun 1945, setidaknya ada 34 negara baru yang diakui oleh PBB. Hal ini disebabkan oleh gelombang nasionalisme yang melanda dunia pada dekade-dekade setelah pertengahan abad ke-20. Batas-batas ilusi digambar untuk memberikan kemerdekaan dan hak untuk memerintah kepada berbagai faksi, di mana negara-negara seperti Sudan yang sebelumnya bersatu jatuh ke dalam konflik dan kerusuhan.
Namun, perpecahan baru tidak menyelesaikan masalah yang ada, tetapi memperumitnya. Dalam kasus Sudan, salah satu cara untuk memahami kompleksitas ini adalah dengan melihat industri dan sektor minyaknya. Sektor minyak sangat penting bagi negara kesatuan, dan menjadi tulang punggung bagi kedua ekonomi yang baru terbentuk. Masalahnya adalah bahwa perbatasan-perbatasan tersebut membongkar industri minyak Sudan yang sebelumnya terpusat. Di negara-negara yang baru terbentuk, Selatan mengendalikan sebagian besar ladang minyak, sementara Utara mengendalikan infrastruktur ekspor, termasuk saluran pipa dan kilang. Oleh karena itu, Sudan Selatan, yang baru saja menjadi negara yang terkurung daratan, bergantung pada saluran pipa Sudan yang menuju ke Laut Merah. Perpecahan ini menyebabkan perselisihan mengenai biaya transit, yang menyebabkan gangguan berulang kali terhadap ekspor minyak - ekspor yang masih diandalkan oleh kedua negara untuk ekonominya. Misalnya, pada tahun 2012, Sudan Selatan menghentikan produksi minyak karena perselisihan ini, sebuah langkah yang secara signifikan memengaruhi pendapatan kedua negara. Sementara perjanjian telah dicapai untuk melanjutkan ekspor, ketegangan dan kesulitan ekonomi tetap ada.
Oleh karena itu, sejak tahun 2011, kita memiliki dua negara terpisah yang sangat bergantung satu sama lain. Mereka memiliki sumber daya, tetapi mereka kekurangan pembangunan yang diperlukan untuk memanfaatkannya. Dengan demikian, meskipun ada sekitar 8 miliar barel minyak di dalamnya, mereka menderita kemiskinan ekstrem.
Ini dapat berubah jika kedua negara bersatu dan stabil. Ini tidak akan terjadi di bawah sistem kapitalis saat ini. Sistem ini telah memperburuk konflik antara orang-orang, kemudian memberi mereka sistem pemerintahan yang mendorong gagasan seperti "kelangsungan hidup yang terkuat," yang memicu ketegangan di dalam dan di antara mereka.
Untuk mengubah situasi di Sudan, dan memastikan stabilitas politiknya dan kemampuannya untuk pembangunan ekonomi, ia harus dikembalikan ke panji Islam. Kemudian, sektor minyaknya dapat dimanfaatkan secara optimal, sektor pertaniannya dikembangkan, dan sektor pertambangan dan industrinya diperluas, serta infrastruktur komersialnya ditingkatkan. Ini akan dilakukan dengan bimbingan Khalifah dan para pembantunya yang menyadari tugas mereka untuk memastikan pembangunan daerah di dalam Negara Islam, dan eksploitasi sumber daya, untuk kepentingan umat Islam. Dan mereka akan berdosa jika mengabaikan tanggung jawab ini.
Adalah mungkin untuk mengembangkan wilayah Sudan, ia memiliki potensi untuk menjadi produsen dan pengekspor makanan utama berkat tanah pertaniannya yang luas, sekitar 84 juta hektar, hanya 20% di antaranya yang ditanami. Ia menanam tanaman utama, termasuk kapas, kacang tanah, biji wijen, sorgum, gandum, dan tebu. Ia juga kaya akan sumber daya mineral seperti emas, asbes, kromium, mika, kaolin, dan tembaga. Ia memiliki infrastruktur untuk banyak industri ringan seperti pengolahan pertanian, perakitan elektronik, plastik, pembuatan furnitur, dan produksi tekstil.
Ia memiliki potensi untuk menyediakan sumber daya bagi seluruh negara Islam, sambil memanfaatkan apa yang ditawarkannya, mengingat lokasi strategisnya antara negara-negara Teluk dan Afrika Barat, dan memiliki akses ke Laut Merah.
Pelabuhan laut utama di Sudan adalah Port Sudan, sebuah pelabuhan air dalam alami yang mampu menangani kapal-kapal besar. Ia juga mendukung berbagai barang termasuk kontainer, barang curah, dan minyak. Ini, bersama dengan pelabuhan Sudan lainnya, menyediakan negara tersebut dengan koneksi langsung ke jalur pelayaran internasional melalui Laut Merah. Ini tidak hanya menghubungkan Sudan dengan tetangga-tetangga Afrikanya, tetapi juga menghubungkannya dengan pasar-pasar Timur Tengah termasuk kota Jeddah di pesisir Arab Saudi. Ini penting karena tetangga-tetangganya terkurung daratan dan akan membutuhkan akses Sudan ke laut untuk berdagang dengan seluruh negara Islam. Potensi ini tidak terbatas pada Afrika dan Timur Tengah, tetapi juga meluas, mungkin ke Asia, Eropa, dan Teluk Arab, berkat lokasi strategis Sudan di Laut Merah dan dekat dengan Terusan Suez.
Meskipun ada kerusuhan saat ini, infrastruktur negara tersebut masih berfungsi dengan cukup baik, di mana Sudan saat ini mengekspor minyak mentahnya ke UEA dan Malaysia melalui terminal Bashayer dan PLOC maritim. Ekspor ini dikirim melalui infrastruktur pelabuhan Sudan di Laut Merah, dan sebagian besar terdiri dari minyak mentah yang diproduksi di Sudan Selatan.
Oleh karena itu, ada potensi bagi wilayah tersebut untuk menjadi bagian yang makmur dari Negara Islam. Begitu negara Islam dipersatukan kembali, Sudan akan dapat berdagang dengan seluruh umat Islam. Ini penting karena Sudan bukan satu-satunya negara yang memiliki sumber daya alam yang cukup untuk memenuhi banyak kebutuhan global saat ini - seluruh Afrika telah diberkahi dengan sumber daya ini; benua ini mengandung hampir 30% dari cadangan mineral dunia, termasuk kobalt, emas, platinum, dan tembaga. Ia juga memiliki hampir 8% dari cadangan minyak dunia dan sekitar 12% dari cadangan gas alam dunia.
Jika kita melihat tetangga-tetangga Sudan, kita memiliki Mesir, yang kaya akan gas alam dan minyak. Ia juga memiliki akses ke Sungai Nil, sumber air yang vital. Ada juga Eritrea yang memiliki sumber daya mineral yang signifikan, termasuk emas, tembaga, dan potas, dan Ethiopia dengan potensi di bidang tenaga air, lahan pertanian, dan mineral. Kemudian ada Republik Afrika Tengah yang memiliki berlian, emas, dan uranium, dan Chad dan Libya dengan sumber daya minyak mereka yang besar. Terlepas dari semua kekayaan dan potensi ini, Afrika adalah rumah bagi beberapa negara termiskin di dunia. Selain Sudan dan Sudan Selatan, negara-negara lain menderita konflik dan kematian, dan sumber daya mereka dijarah dan dieksploitasi.
Di bawah Khilafah, situasi ini akan berubah. Negara Islam akan melanjutkan komitmennya untuk mengembangkan sumber daya bumi, sehingga kita (sebagai umat) menjadi mandiri, tidak bergantung pada atau dieksploitasi oleh negara-negara musuh. Ini adalah hal mendasar, karena tidak boleh memberi musuh-musuh Islam keuntungan apa pun atas kita. Dan seperti yang kita lihat, itu juga mungkin, jika kita memiliki seorang pemimpin yang mampu menyatukan umat Islam di Sudan dan memadamkan keadaan ketidakstabilan dan kerusuhan saat ini.
#أزمة_السودان #SudanCrisis
Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Fatimah Musa'ab
Anggota Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir