Gaza Memohon: Saatnya Kebangkitan Umat di Bawah Satu Panji
Pertempuran sengit di Gaza telah menjadikan tanah yang setiap hari berdarah karena darah saudara-saudara kita ini, juga menjadi cermin kelemahan dan perpecahan yang menimpa kita sebagai umat. Kita tidak bisa lagi berdiam diri dan tidak bisa takut untuk bergerak. Tetapi menjadi tanggung jawab kita untuk bangkit secara pemikiran dan tindakan, untuk kembali ke sumber kekuatan kita, akidah yang menyatukan kita, Islam yang mempersatukan kita, dan panji yang harus berkibar di atas setiap panji: La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.
Sesungguhnya manusia pada dasarnya adalah makhluk yang diciptakan untuk berpikir dan merenung, untuk menerima apa yang benar, dan mencari apa yang menerangi jiwanya. Ia adalah makhluk yang terpengaruh oleh lingkungannya, oleh perkataan dan perbuatan, oleh lingkungan dan sistem tempat ia hidup. Dan ketika ia dibesarkan dalam realitas yang terbalik, ia terbiasa dengan penyimpangan sampai ia melihatnya sebagai kebenaran, dan ia terasing dari fitrahnya tanpa menyadarinya. Dan ciri-cirinya terbentuk sesuai dengan apa yang dilihat dan didengarnya, sampai ia menjadi tawanan gagasan yang bukan miliknya, dan tidak menyerupai apa yang diciptakan untuknya.
Invasi pemikiran ini tidak terbatas pada kata-kata atau gagasan, tetapi menembus jauh ke dalam budaya kita melalui kurikulum pendidikan, media, dan ekonomi. Ketika sejarah yang terdistorsi dan nilai-nilai asing disajikan kepada kita di sekolah dan media, generasi baru kehilangan hubungan dengan identitasnya, dan fitrah menjadi tidak terlihat di hadapan standar Barat yang tidak asli. Penyimpangan dari jalan syariat tidak lagi sekadar kesalahan, tetapi telah menjadi ukuran untuk mengukur apa yang benar atau salah... Demikianlah kehancuran dimulai.
Kerusakan realitas tidak datang dari kehampaan, tetapi dari sistem yang kita impor dari Barat, sampai kita memerintah dengan pikiran orang lain, dan mengukur kebenaran dengan ukuran yang asing bagi kita. Sistem yang mengubah konsep, sehingga iman menjadi keterbelakangan, kesucian menjadi kompleks, kebebasan menjadi pelepasan, dan keterbukaan menjadi dekadensi! Setiap kali fitrah mencoba berteriak, ia dibungkam oleh kebisingan "tren", kilauan media, dan hiasan judul yang menyembunyikan kekosongan spiritual yang mengerikan.
Barat tidak hanya melancarkan perang melawan umat dengan senjata, tetapi juga dengan pemikiran, ekonomi, film, pendidikan, dan media. Mereka menanamkan dalam diri kita kompleks inferioritas, sampai banyak dari kita berpikir bahwa kehormatan hanya dapat diperoleh dengan menjadi bagian dari mereka. Mereka membagi negara kita, mengubah simbol kita, mengganti panji-panji kita yang dulu mengibarkan La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah, dengan panji-panji yang dicampur dengan warna-warna yang tidak ada hubungannya dengan agama kita. Mereka mengajari kita untuk menjadi bagian dari perbatasan, bukan dari akidah, dan untuk mengagungkan lagu kebangsaan lebih dari Al-Qur'an, dan untuk bernyanyi untuk tanah air dan tidak bangkit untuk umat.
Di bawah penipuan ini, seorang Muslim melihat kebenaran sebagai sesuatu yang asing di negaranya sendiri. Ia sibuk mencari nafkah daripada makna keberadaan, dan lelah membela akidahnya di dunia yang melihatnya ekstrem hanya karena ia berpegang teguh padanya. Bahkan jika ia melihat ke Barat, ia melihat mereka, meskipun kafir, menjalani kehidupan yang terorganisir dan damai, dan ia berpikir bahwa rahasia kebahagiaan ada pada apa yang mereka miliki, bukan pada apa yang telah ia sia-siakan dari tangannya.
Tetapi Allah tidak menciptakan kita untuk menjadi pengikut, tetapi untuk menguasai dengan kebenaran dan keadilan. Dan kita tidak kehilangan kehormatan kita kecuali ketika kita meninggalkan jalan Nabi kita ﷺ, jalan yang menggabungkan ibadah dan muamalah, dan menggabungkan jiwa dengan pekerjaan. Sesungguhnya umat yang tahu bahwa mereka dibodohi, pasti akan bangkit.
Cukup bagi seseorang untuk menyadari bahwa ia hidup dalam ilusi, untuk memulai perubahan. Lalu bagaimana dengan seluruh umat jika mereka terbangun dari kelalaian mereka? Bagaimana jika mereka bersatu di bawah satu panji, membawa di dalam hati mereka "La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah" dan yakin bahwa kemenangan ada di tangan Allah, bukan di tangan Barat? Bukankah sudah saatnya kita merenungkan kembali antara sistem asing yang diterapkan pada kita dan apa yang diperintahkan oleh agama kita? Bukankah sudah saatnya kita menghidupkan kembali Islam seperti yang dikehendaki Allah: ibadah yang memperbaiki hati, keadilan yang memperbaiki bumi, dan menghubungkan materi dengan jiwa, dan kemanusiaan seperti yang dikehendaki Allah?
Mari bersama-sama bangkit dengan pemikiran dan kesadaran, mengembalikan fitrah, dan berjalan di jalan orang-orang yang cahayanya tidak padam, sampai umat mendirikan kekhalifahan Rasyidah, dan mengangkat panji kebenaran di atas setiap panji.
Tetapi, ketika kita berbicara tentang fitrah, kesadaran, dan kebangkitan, kita tidak dapat mengabaikan apa yang telah terjadi selama beberapa dekade di Palestina secara umum, dan di Gaza khususnya sejak operasi Badai Al-Aqsa. Di sana, akidah kita diuji, dan kejujuran kesadaran kita diukur, karena tanah yang setiap hari berdarah bukanlah masalah yang jauh dari kita, tetapi cermin kelemahan, keheningan, dan perpecahan kita.
Gaza bukan hanya sekadar perebutan tanah; ini adalah perebutan identitas dan persatuan. Umat yang terpecah belah dan dilanda perselisihan internal, menemukan diri mereka tidak berdaya menghadapi upaya terus-menerus Barat untuk memecah belah mereka. Dan meskipun Gaza memberikan pengorbanan, tetapi tidak adanya visi yang bersatu dan aksi politik kolektif membuat kemenangan mereka hanya menjadi teriakan di udara! Jika kita benar-benar ingin perubahan, maka jalan dimulai dengan memulihkan persatuan intelektual dan politik kita di bawah satu panji.
Gaza hari ini berteriak atas nama setiap hati yang beriman bahwa umat masih hidup, menunggu seseorang untuk mengembalikan suaranya di bawah panji kebenaran. Jika kita percaya bahwa kebangkitan dimulai dari kesadaran, maka jadikan kemenangan Gaza sebagai ujian pertama kesadaran kita, dan langkah pertama di jalan umat yang tahu bahwa kemenangan adalah janji dari Allah yang tidak akan diingkari.
Jalan menuju kemenangan dimulai dengan kebangkitan intelektual dan politik umat, dan untuk mencapai itu kita harus kembali ke Islam dalam dimensi-dimensi hakikinya; akidah, syariat, dan pemerintahan. Dan Hizbut Tahrir hari ini memimpin seruan ini dengan penuh iman dan tekad, menyoroti cara terbaik untuk melanjutkan kehidupan Islam, dan kembalinya Khilafah Rasyidah sesuai manhaj kenabian. Keseimbangan kekuatan tidak akan berbalik untuk keuntungan umat kecuali jika mereka kembali ke akidah mereka, menyatukan barisan mereka, dan mengangkat panji Islam tinggi-tinggi. Seruan Islam, yang diwakili oleh Hizbut Tahrir, mengajak kita untuk mendukung proyek agung ini; proyek umat yang tidak berkompromi dengan akidahnya dan tidak bersandar pada orang asing. Jadikan Gaza sebagai insentif pertama bagi kita semua, dan jadikan itu sebagai gerbang perubahan yang darinya fajar kebangkitan dimulai. Maka angkatlah panji kebenaran, dan jadilah bagian dari umat yang sadar dan berjihad, sebagaimana yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bergegaslah menuju proyek Khilafah Rasyidah sesuai manhaj kenabian yang diupayakan oleh Hizbut Tahrir dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Hanya dengan begitu janji Allah Subhanahu wa Ta'ala akan terwujud pada diri kita, karena itulah satu-satunya jalan untuk membangkitkan umat dan mengangkat kekuasaan orang kafir darinya, dan memulihkan hukum Islam, dan mewujudkan janji Allah Azza wa Jalla: ﴿ALLAH TELAH MENJANJIKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERIMAN DI ANTARA KAMU DAN MENGERJAKAN AMAL-AMAL YANG SALEH BAHWA DIA SESUNGGUHNYA AKAN MENJADIKAN MEREKA BERKUASA DI BUMI﴾, Allah Ta'ala berfirman: ﴿DAN SESUNGGUHNYA ALLAH AKAN MENOLONG ORANG YANG MENOLONG (AGAMA)NYA. SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA KUAT LAGI MAHA PERKASA﴾.
Ditulis untuk Radio Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Nusaiba Al-Fallahi (Ummu Wa'ad) - Wilayah Yaman