Penyebab Sikap Negatif Umat Islam Terhadap Penghinaan dan Penindasan yang Mereka Alami
Di zaman kita, zaman pemerintahan yang represif, banyak musibah dan cobaan menimpa umat Islam, dimulai dari Al-Quds yang dinodai oleh kaki-kaki saudara babi yang membantai penduduknya, hingga kehinaan dan kerendahan para pecundang yang bersujud di bawah kaki penjajah kafir untuk mencari ridanya; yang satu memberi mereka ribuan miliar dari uang umat Islam, yang lain menutup masjid untuk menghormatinya, yang ketiga mendirikan patung untuknya, dan setiap orang menyembah tuannya dengan caranya sendiri, dan menjadikan umat Islam sebagai korban untuk mendapatkan ridanya, tanpa ada tindakan nyata dan kemarahan terhadap penghinaan dan penindasan ini. Hal itu terjadi hanya karena lemahnya kepribadian Islam dalam diri kita karena tidak adanya pola pikir Islam yang jernih dan jiwa Islam yang peka.
Oleh karena itu, wajib bagi kita umat Islam untuk mencari cara memperkuat kepribadian Islam kita, kepribadian yang dibentuk oleh beliau shallallahu alaihi wasallam pada para sahabatnya, sehingga menjadikan Bilal di bawah terik matahari dan pasir gurun mengulang-ulang "Ahad, Ahad", dan memberikan kepada keluarga Yasir janji Ilahi «BERSABARLAH HAI KELUARGA YASIR, TEMPAT KEMBALI KALIAN ADALAH SURGA» dengan keteguhan mereka dan tidak menyimpang dari kebenaran di hadapan penindasan kaum kafir Quraisy...
Kepribadian, menurut definisi yang benar, adalah cara akal memperlakukan sesuatu, dan cara pemenuhan kebutuhan organik dan naluri. Jadi, ia terdiri dari pola pikir dan jiwa. Untuk memperkuat pola pikir Islam, seseorang harus memahami agama, yaitu dengan membaca buku-buku fikih, merenungkan Al-Qur'an, dan menambah wawasan tentang sunnah, serta menghadiri majelis ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda: «BARANG SIAPA YANG DIKEHENDAKI ALLAH KEBAIKAN, MAKA DIA AKAN DIBERI PEMAHAMAN DALAM AGAMA». Dan merupakan kewajiban setiap Muslim untuk bekerja memperkuat pola pikir Islam ini; karena dengannya dia akan berjalan dalam kehidupan ini dan mengambil keputusannya.
Sekarang kita beralih ke bagian kedua, yaitu jiwa, yang diperkuat dengan memperkuat hubungan dengan Allah. Memperkuat hubungan dengan Allah dicapai dengan mengingat apa yang dijanjikan Allah saat melakukan ibadah, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an dan merenungkannya, dan melakukan amalan sunnah seperti puasa, shalat, dan doa. Allah Ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi: «BARANG SIAPA MEMUSUHI KEKASIH-KU, MAKA AKU MENANTANGNYA UNTUK BERPERANG, DAN TIDAKLAH SEORANG HAMBA MENDAPATKAN DEKAT KEPADA-KU DENGAN SESUATU YANG LEBIH AKU CINTAI DARIPADA MENUNAIKAN KEWAJIBAN YANG AKU FARDHUKAN KEPADANYA, DAN HAMBA-KU SENANTIASA MENDEKATKAN DIRI KEPADA-KU DENGAN AMALAN SUNNAH HINGGA AKU MENCINTAINYA, MAKA JIKA AKU TELAH MENCINTAINYA, AKU AKAN MENJADI PENDENGARANNYA YANG DIA MENDENGAR DENGANNYA, PENGLIHATANNYA YANG DIA MELIHAT DENGANNYA, TANGANNYA YANG DIA MEMUKUL DENGANNYA, DAN KAKINYA YANG DIA BERJALAN DENGANNYA, DAN JIKA DIA MEMINTA KEPADA-KU, PASTI AKU AKAN MEMBERINYA, DAN JIKA DIA BERDOA KEPADA-KU, PASTI AKU AKAN MENGABULKANNYA, DAN JIKA DIA MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA-KU, PASTI AKU AKAN MELINDUNGINYA, DAN TIDAKLAH AKU RAGU DALAM SESUATU YANG AKU AKAN MELAKUKANNYA SEPERTI KERAGUAN-KU DALAM MENCABUT NYAWA HAMBA-KU YANG BERIMAN, DIA MEMBENCI KEMATIAN DAN AKU MEMBENCI MENYAKITINYA, TETAPI DIA HARUS MENGALAMINYA».
Jiwa juga diperkuat dengan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah, dan dengan membaca sirah Nabi ﷺ dan kehidupan para sahabatnya yang mulia, dan bagaimana mereka lebih mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kekurangan, dan kerinduan mereka untuk bertemu dengan Ar-Rahman dengan bergegas untuk berjihad, dan tidak condong pada dunia dan zuhud di dalamnya, sehingga mereka berhak mendapatkan pujian Allah atas mereka dan ampunan atas dosa-dosa mereka, dan kabar gembira surga bagi sebagian dari mereka.
Jika seseorang memiliki kepribadian Islam, maka ia akan membenci kemaksiatan dan mencintai ketaatan, dan itu adalah salah satu tanda diterimanya seorang hamba oleh Allah. Dan di antara tanda-tanda kesesatan adalah ketika maksiat terasa nikmat baginya, sehingga ia tenggelam di dalamnya dan dosanya bertambah. Seorang Muslim yang memperkuat jiwa ini akan mampu bersikeras pada pendapatnya dan teguh pada keputusannya, tidak peduli seberapa besar siksaan atau godaan yang ia hadapi. Dan bagi kita ada pelajaran dalam diri Yusuf alaihissalam, karena ia memilih penjara daripada perbuatan keji, dan bersabar atas cobaan meskipun waktunya lama, yakin bahwa ia memiliki Tuhan yang tidak akan menyia-nyiakannya, maka ganjarannya adalah Allah mengembalikan keluarganya kepadanya dan menjadikannya penguasa Mesir.
Orang yang memiliki jiwa yang kuat berjalan di dunia ini tanpa takut kepada siapa pun kecuali Allah Ta'ala, karena keyakinannya bahwa tidak seorang pun akan memberinya manfaat atau mudharat, atau mempercepat ajalnya, atau mengurangi rezekinya kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Rasulullah ﷺ bersabda: «KETAHUILAH BAHWA SEANDAINYA UMAT MANUSIA BERKUMPUL UNTUK MEMBERIMU MANFAAT DENGAN SESUATU, MEREKA TIDAK AKAN DAPAT MEMBERIMU MANFAAT KECUALI DENGAN SESUATU YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH UNTUKMU, DAN SEANDAINYA MEREKA BERKUMPUL UNTUK MEMBERIMU MUDHARAT DENGAN SESUATU, MEREKA TIDAK AKAN DAPAT MEMBERIMU MUDHARAT KECUALI DENGAN SESUATU YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH ATASMU».
Jika seorang Muslim memiliki kepribadian Islam ini, ia akan teguh pada hal-hal yang mulia, bahkan meningkat dari yang mulia ke yang lebih tinggi. Dalam hal ini, ia akan diberi pahala di akhirat atas usahanya untuk itu, dan ia akan menjadi sekutu mihrab dan pada saat yang sama pahlawan jihad, sifatnya yang paling tinggi adalah bahwa ia adalah hamba Allah Ta'ala, Penciptanya dan Penciptanya. Jika kepribadian-kepribadian ini ditemukan di tengah-tengah umat, maka tangan orang kafir yang telah menggerogoti pinggangnya sejak zaman dahulu akan dipotong, dan mereka akan keluar dari segala penjuru untuk menyingkirkan para agen yang hina, dan melaksanakan perintah yang diridhai Allah untuknya, yaitu menegakkan Khilafah kedua di atas manhaj kenabian.
Ditulis untuk Radio Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Khadijah bin Saleh