Umat Islam Antara Wahyu dan Sejarah
Kami adalah umat Islam yang dipilih Allah dari antara semua umat, lalu Dia menyapanya dengan pujian yang agung, dan berfirman: ﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾. Kebaikan ini bukanlah sifat warisan atau anugerah sejarah, tetapi merupakan fungsi utama, pesan agung, dan kewajiban taklifi; menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, dan iman serta jihad. Jika umat menunaikan fungsinya, ia akan menjadi umat terbaik, dan jika lalai, ia tidak akan menjadi demikian lagi.
Rasulullah ﷺ telah mewujudkan hakikat ini sejak awal pengutusannya, tidak hanya sebatas nasihat atau zuhud, tetapi mendirikan proyek peradaban yang lengkap, untuk menghadapi keyakinan kaum Quraisy yang rusak, menghancurkan sistem mereka yang batil, dan memberikan alternatif rabbani yang komprehensif. Di Madinah, beliau mendirikan negara Islam yang memelihara urusan rakyatnya dengan wahyu, dan menyampaikan Islam kepada manusia dengan dakwah dan jihad.
Setelah beliau ﷺ, para Khulafaur Rasyidin radhiyallahu 'anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka mengikuti jejaknya, mereka menaklukkan Persia dan Romawi, dan menegakkan keadilan di negeri-negeri yang ditaklukkan. Kemudian bendera Islam membentang ke timur dan barat di bawah Daulah Umayyah, dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Abbasiyah, kemudian Utsmaniyah menjaga Islam selama empat abad, mereka menaklukkan Konstantinopel sebagai realisasi kabar gembira dari Rasulullah ﷺ: «لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ».
Demikianlah umat hidup di bawah naungan Khilafah dengan mulia dan memimpin, hingga orang kafir penjajah bersekongkol di bawah kepemimpinan Inggris, dan menjatuhkan Khilafah pada tahun 1924 M, lalu mencabik-cabik umat, menghilangkan kekuasaannya, dan penjajah menguasai tanah, kekayaan, dan tentaranya.
Hari ini kita melihat Palestina diduduki oleh orang-orang Yahudi yang didukung oleh Barat, dan kita melihat Irak dan Suriah menjadi jarahan para penjajah, Afghanistan menjadi arena perang, Afrika menjadi mangsa penjajahan modern, Teluk menjadi sandera perusahaan-perusahaan Barat dan tentaranya, dan tentara Muslim diubah menjadi alat untuk melindungi rezim-rezim boneka, alih-alih menjadi perisai bagi umat dan tombak bagi musuh-musuhnya.
Realitas ini bukanlah takdir yang pasti, tetapi akibat wajar dari runtuhnya Khilafah dan hilangnya entitas pemersatu. Kita hari ini hanyalah bangsa-bangsa yang tercerai-berai, yang diperintah oleh rezim-rezim pengkhianat, menerapkan sistem dan undang-undang Barat, dan tunduk kepada Barat penjajah.
Lalu siapakah kita? Apakah umat terbaik yang digambarkan oleh Allah? Atau bangsa-bangsa yang kehilangan identitas, bendera, dan pesannya?
Kebaikan kita tidak akan kembali kecuali dengan kembalinya kita kepada fungsi asali kita, yaitu melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah Rasyidah 'ala minhajin nubuwwah, yang menerapkan Islam di dalam negeri, dan membawanya ke dunia dengan dakwah dan jihad, sebagai pesan hidayah, cahaya, dan rahmat bagi seluruh alam. Rasulullah ﷺ bersabda: «إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا». Ini adalah janji yang tidak akan diingkari, tetapi terkait dengan amal kita.
Jalan perubahan tidak diciptakan dari akal atau diambil dari pengalaman Barat, tetapi diambil dari sirah Rasulullah ﷺ yang mengubah realitas umat manusia: di mana Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat menjadi kelompok mukmin berdasarkan akidah Islam, sehingga terbentuk pada mereka kesadaran yang jernih dan keikhlasan yang tulus, sehingga mereka menjadi pembawa dakwah yang tidak mengenal kompromi. Kemudian para sahabat turun dengan kesadaran ini dan dengan budaya serta pemikiran Islam ke arena Mekah, menghadapi berhala, pemikiran, dan adat istiadat, menyerukan kebenaran, dan melakukan perjuangan pemikiran dan perjuangan politik, hingga membentuk opini publik yang sadar akan Islam, dan orang-orang melihat bahwa Islam bukan hanya agama ibadah, tetapi juga sistem kehidupan yang komprehensif, dan gaya hidup yang terintegrasi.
Bersamaan dengan ini, Rasulullah ﷺ menuju kepada para pemilik kekuatan dan perlindungan dari suku-suku, menawarkan kepada mereka proyek Islam dan meminta mereka untuk mendukungnya dan mendirikan negaranya, lalu ada yang menolaknya dan ada yang mengajukan syarat kepadanya, hingga Allah menyiapkan untuknya kaum Anshar dari penduduk Yatsrib, lalu mereka berbaiat kepadanya dalam Baiat Aqabah Kedua, lalu menjadi titik balik utama, kemudian berdirilah negara Islam. Demikianlah Rasulullah ﷺ berjalan, dan demikianlah seharusnya kita berjalan jika kita ingin melaksanakan kewajiban dan pantas mendapatkan kemenangan dan tamkin.
Bekerja untuk menegakkan Khilafah bukanlah sekadar ibadah individu atau aktivitas amal, tetapi merupakan perjuangan pemikiran dengan pemikiran kekufuran seperti demokrasi, sekularisme, nasionalisme, dan kebangsaan, untuk mengungkap kepalsuan dan menunjukkan ketidakmampuannya, dan menjelaskan kelayakan Islam sendiri untuk memimpin umat manusia. Demikian pula, ini adalah perjuangan politik melawan rezim-rezim boneka yang memerintah negeri-negeri Muslim, untuk mengungkap kesetiaannya kepada Barat, mengungkap kejahatannya terhadap umat, dan memimpin kaum Muslim untuk meminta pertanggungjawaban dan bekerja untuk mencabutnya.
Dan ketika terbentuk di dalam umat opini publik yang sadar akan Islam dan perlunya penerapannya, maka datanglah peran pertolongan dari para pemilik kekuatan dan perlindungan, dari tentara, suku, atau kepemimpinan yang berpengaruh, untuk memberikan pertolongan kepada Hizbut Tahrir secara penuh tanpa syarat sebagaimana kaum Anshar memberikannya kepada Rasulullah ﷺ, sehingga Daulah Islamiyah berdiri kembali.
Wahai Umat Islam, hari ini kita tidak dihadapkan pada pilihan kemewahan atau masalah cabang, tetapi dihadapkan pada masalah yang menentukan: baik kita kembali ke peran kita sebagai umat terbaik yang memimpin umat manusia, atau kita tetap menjadi sampah yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa.
Wajib bagi setiap Muslim untuk menjadikan masalah Khilafah sebagai masalah pertama dan yang menentukan, dan untuk bekerja bersama kami untuk menegakkannya, sesuai dengan metode Rasulullah ﷺ dengan perjuangan pemikiran, perjuangan politik, dan meminta pertolongan kepada para pemilik kekuatan dan perlindungan yang mampu memberdayakan orang-orang yang ikhlas untuk menegakkannya dan menerapkan Islam melaluinya, hingga umat bangkit kembali.
Khilafah bukan hanya sekadar pemerintahan, tetapi merupakan penerapan Islam secara sempurna, komprehensif, dan tidak kurang, serta membebaskan umat dan tempat-tempat sucinya dari hegemoni Barat dan mengakhiri dekade ketergantungan yang mengikatnya, serta memulihkan kedaulatan atas kekayaan yang dijarah oleh Barat dalam perawatan dan perlindungan rezim, dan kemudian memimpin umat manusia dengan cahaya Islam, dan menyelamatkannya dari kezaliman kapitalisme dan kebiadaban kolonialisme.
Wahai Umat Islam, kita memiliki janji Allah dan kabar gembira dari Rasul-Nya ﷺ, dan kita memiliki sejarah yang gemilang yang disaksikan oleh musuh sebelum teman, dan kita memiliki kekayaan yang sangat besar dan manusia yang berjumlah jutaan. Yang tersisa hanyalah kita bangkit untuk bekerja keras, dan meneladani Rasul kita ﷺ dalam jalan perubahan, hingga kita menegakkan Khilafah Rasyidah kedua 'ala minhajin nubuwwah, lalu kita kembali menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.
﴿هَـذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِ﴾
Ditulis untuk siaran Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Saad Muadz – Wilayah Mesir