Perenungan Ayat
﴿وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً﴾
Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturunkan sedikit demi sedikit, bersamaan dengan peristiwa dan situasi. Mengapa? Agar orang-orang beriman teguh, dan mengajari mereka bagaimana berjalan selangkah demi selangkah di jalan dakwah. Rasulullah ﷺ tidak tergesa-gesa, dan tidak meminta hasil dengan cepat, tetapi membacakan Al-Qur'an kepada orang-orang ﴿عَلَى مُكْثٍ﴾ yaitu diturunkan secara bertahap bersamaan dengan fakta dan peristiwa, agar dengannya dibangun manusia beriman dengan bangunan yang kokoh, dan dengannya masyarakat tumbuh dengan penuh kesadaran. Pendekatan dalam penurunan wahyu ini bukanlah sia-sia, melainkan untuk hikmah yang agung; untuk meneguhkan hati, membimbing akal, dan mendidik para pembawa Islam untuk kepemimpinan dan memikul amanah.
Rasulullah ﷺ tidak mencari hasil yang segera, melainkan menempuh jalan penyampaian yang jelas dan kerja yang berkelanjutan, dan penerapan yang nyata, dan beliau membacakan Al-Qur'an kepada orang-orang pada waktu yang tepat, mengobati masalah mereka, menghubungkan mereka dengan Allah, dan mengangkat mereka dari kejahiliyahan, hingga mereka menjadi orang-orang yang memimpin dunia.
Sesungguhnya ayat ini meletakkan di tangan kita sebuah kaidah agung dalam perubahan yang hakiki, yang tidak terjadi dengan teriakan musiman, atau dengan gejolak emosi, atau dengan menunggu mukjizat, melainkan dengan keteguhan pada ide, dan interaksi yang sadar dengan umat, dan kesabaran di jalan dakwah, dan bekerja dalam proyek politik rabbani yang jelas.
Hari ini, ketika umat terombang-ambing di antara sistem kekufuran, dan solusi tambal sulam, dan meminta-minta dari sistem internasional, maka hal pertama yang harus kita kembali kepadanya adalah Al-Qur'an dan Sunnah dan apa yang muncul darinya berupa ijma' sahabat dan qiyas yang dibangun di atas illat syar'i; kita kembali kepada Al-Qur'an bukan sebagai lafaz yang dibaca di mihrab saja, atau ayat yang dibaca saat kematian, melainkan sebagai manhaj yang mengarahkan langkah-langkah kita, dan sebagai konstitusi yang mengatur kehidupan kita, dan sebagai dasar yang kita bangun di atasnya negara kita.
Sesungguhnya pembangunan umat adalah dengan mewujudkan kepribadian Islam secara mental dan psikologis, dan mengarahkannya menuju kerja keras untuk mendirikan negara Islam, Khilafah Rasyidah 'ala Minhajin Nubuwwah, yang dengannya saja diangkat kezaliman, dan diterapkan syariat Allah, dan dikembalikan keadilan, dan ditolong orang-orang yang dizalimi di bumi.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabar dalam memikul dakwah di Mekah, dan meneguhkan para sahabatnya di atas kebenaran, dan menghadapi kekufuran dan kebatilan dengan keyakinan, hingga Allah memantapkan baginya di Madinah, maka kita harus berjalan di atas langkah yang sama; kita membawa Islam sebagai risalah dan sistem kehidupan, dan bekerja untuk menegakkannya dalam realitas, betapa pun panjang jalannya atau banyaknya pengorbanan, maka manhaj ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan tidak terjadi dengan tergesa-gesa atau dengan improvisasi, melainkan dengan keteguhan di atas kebenaran, dan dengan pendidikan atas makna Al-Qur'an, dan dengan kerja yang terorganisir hingga Allah mempersiapkan kemenangan.
Dan hari ini kita juga membutuhkan untuk berjalan di jalan ini: kita membaca Al-Qur'an dengan perenungan, dan memahami maknanya, dan membawanya kepada orang-orang dengan kesadaran, dan bersabar sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabar, hingga datang janji Allah dengan al-istikhlaf dan at-tamkin, dan Islam kembali memimpin umat manusia dengan negara Khilafah Rasyidah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ﴿وَعْدَ اللَّهِ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ...﴾ Janji tidak terwujud dengan angan-angan, melainkan dengan kerja yang jujur yang dijalani oleh para nabi, dan dengannya saja umat kembali ke posisinya yang benar; pemimpin bukan pengikut, mulia bukan hina, menyembah Rabbnya bukan musuh-musuhnya.
Ditulis untuk Radio Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir
Muayyad ar-Rajhi – Wilayah Yaman